banner 728x250

BPBD dan Basarnas Baubau Perkuat Koordinasi Hadapi Ancaman Bencana Laut di Tengah El Nino

  • Bagikan

LENSASULTRA.COM-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Baubau memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui Pos Pencarian dan Pertolongan (SAR) Baubau dalam menghadapi potensi peningkatan ancaman bencana selama puncak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Koordinasi tersebut dilakukan melalui rapat bersama yang digelar di Aula Kantor BPBD Kota Baubau, Senin (10/08/2026). Pertemuan dihadiri jajaran Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Baubau dan tim rescue Pos SAR Baubau.

Dalam rapat tersebut, ancaman bencana di wilayah perairan menjadi salah satu perhatian utama. Hal ini mengingat Kota Baubau merupakan wilayah pesisir sekaligus salah satu simpul penting transportasi laut di kawasan Kepulauan Buton.
Kondisi cuaca dan angin pada puncak musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko perjalanan laut, khususnya bagi nelayan dan pengguna kapal berukuran kecil. Karena itu, BPBD dan Pos SAR Baubau menyepakati penguatan komunikasi dan pertukaran informasi secara cepat sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan kecelakaan laut.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Baubau, Dr. Moh. Tasdik, M.Si., mengatakan, ancaman El Nino tidak hanya perlu dilihat dari sisi kekeringan, krisis air bersih maupun kebakaran, tetapi juga dari dampaknya terhadap kondisi perairan.”El Nino sering dibaca publik semata sebagai ancaman kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran lahan. Padahal di kota kepulauan seperti Baubau, penguatan angin timur pada puncak kemarau juga menaikkan tinggi gelombang di alur pelayaran kita. Dua ancaman ini berjalan beriringan, dan keduanya wajib kita antisipasi secara bersamaan,” ujarnya.

Menurutnya, koordinasi tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif sebelum terjadi keadaan darurat. Karena itu, kecepatan informasi pada menit-menit awal menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan penanganan kejadian.

Diungkapkan, BPBD dan Pos SAR Baubau menyepakati adanya jalur komunikasi yang jelas antara Pusdalops BPBD dengan Comm Centre Pos SAR Baubau yang aktif 24 jam. Dengan mekanisme tersebut, setiap laporan kejadian di laut diharapkan dapat segera diterima dan ditindaklanjuti tanpa menunggu proses koordinasi yang panjang.

“Kami tidak ingin koordinasi baru terbangun ketika korban sudah jatuh. Karena itu rapat ini menyepakati satu jalur komunikasi yang jelas antara Pusdalops BPBD dan Comm Centre Pos SAR Baubau, aktif 24 jam, sehingga setiap laporan kejadian di laut dapat langsung ditindaklanjuti tanpa harus menunggu jalur berjenjang,”ungkapnya.

Tasdik juga mengakui masih terdapat keterbatasan personel maupun peralatan yang dimiliki BPBD, terutama apabila terjadi kejadian secara bersamaan di beberapa lokasi. Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Keterbatasan personel dan peralatan adalah kenyataan yang kami hadapi. Justru karena itu kerangka kerja SIGAP terus kami dorong, agar setiap kejadian memiliki alur penanganan yang pasti sejak menit pertama, siapa yang bergerak lebih dulu, siapa yang menyusul, dan sumber daya mana yang dipakai. Kekuatan kita hari ini ada pada kecepatan koordinasi, bukan pada besarnya alat,”bebernya.

BPBD Kota Baubau juga mengimbau nelayan, operator kapal rakyat dan seluruh masyarakat pengguna transportasi laut untuk selalu memperhatikan informasi cuaca maritim sebelum melakukan perjalanan.
Masyarakat diminta tidak memaksakan diri melaut apabila telah terdapat peringatan dini mengenai kondisi gelombang yang membahayakan. Selain itu, kelengkapan keselamatan, termasuk pelampung, harus dipastikan tersedia selama perjalanan.

“Kepada nelayan, operator kapal rakyat, dan seluruh masyarakat pengguna jasa transportasi laut, periksa informasi cuaca maritim sebelum berangkat, pastikan pelampung tersedia, dan jangan berangkat bila kondisi tidak memungkinkan. Satu keputusan menunda keberangkatan jauh lebih murah dibanding satu operasi pencarian,”imbuhnya.

Selain ancaman bencana di laut, BPBD juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi bencana di daratan selama puncak musim kemarau, seperti kebakaran lahan dan permukiman, pohon tumbang serta potensi krisis air bersih.
Masyarakat juga diminta menghentikan kebiasaan membakar sampah di lahan terbuka yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca yang relatif kering.

Sementara itu, Kepala Pos SAR Baubau, Yayan La Ihu, S.H., menyatakan kesiapan jajarannya untuk mendukung penuh upaya Pemerintah Kota Baubau dalam menghadapi potensi bencana selama periode kemarau. Pasalnya, intensitas operasi pencarian dan pertolongan di wilayah perairan Selat Buton dan sekitarnya membutuhkan kecepatan dalam menerima setiap laporan kejadian.

“Tim rescue kami siaga dan siap digerakkan setiap saat. Yang kami butuhkan dari semua pihak adalah kecepatan pelaporan. Semakin cepat informasi masuk ke Comm Centre, semakin luas peluang korban dapat diselamatkan,”jelasnya.

Rapat koordinasi BPBD dan Pos SAR Baubau tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting.Pertama, mengaktifkan jalur komunikasi dan pertukaran informasi kejadian secara langsung selama 24 jam antara Pusdalops BPBD Kota Baubau dan Comm Centre Pos SAR Baubau.
Kedua, melakukan diseminasi bersama peringatan dini cuaca maritim BMKG kepada kelurahan pesisir, kelompok nelayan dan operator pelabuhan rakyat melalui berbagai kanal informasi, termasuk media sosial dan penyiaran keliling.
Ketiga, menyusun pemetaan bersama titik rawan kecelakaan laut pada alur pelayaran dan simpul pelabuhan di wilayah Kota Baubau.
Keempat, melibatkan berbagai unsur sebagai potensi SAR yang dapat dimobilisasi, antara lain TNI AL, Polairud, KSOP, Dinas Perhubungan, Dinas Pemadam Kebakaran, PMI, Tagana, relawan dan kelompok nelayan.
Kelima, melanjutkan dukungan Pemerintah Kota Baubau terhadap rencana peningkatan status kelembagaan Pos SAR Baubau menjadi Kantor Pencarian dan Pertolongan, sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pelayanan pencarian dan pertolongan di wilayah kepulauan.

Sebagai tindak lanjut, BPBD Kota Baubau akan menyampaikan hasil rapat koordinasi tersebut kepada Wali Kota Baubau serta mendorong peningkatan kesiapsiagaan seluruh perangkat daerah terkait hingga tingkat kelurahan selama periode puncak musim kemarau.

Masyarakat yang menemukan atau mengalami kondisi yang membahayakan jiwa diimbau segera melaporkan kepada Pusdalops BPBD Kota Baubau melalui 0851-8135-4198 dan/atau Pos SAR Baubau melalui 0813-4164-6498.

Kecepatan informasi, ketepatan koordinasi, dan kepatuhan terhadap peringatan dini menjadi kunci untuk mencegah korban dan mempercepat pertolongan ketika keadaan darurat terjadi. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *