Virtue Dragon Jadi Salah Satu Penggerak Kemajuan Ekonomi Sultra

Virtue Dragon Jadi Salah Satu Penggerak Kemajuan Ekonomi Sultra

Disinyalir, ada Mark Up pada Rp 1,9 Miliar APBDes di Muna
30 September, Korem 143/HO Gelar Nonton Bareng Film Penghianatan PKI
Aliansi Tani Sultra Bersatu, Menuntut Penyelesaian Konflik Agraria di Sultra

Lensasultra.com, KENDARI – Perusahaan pemurnian nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) yang ada di Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), dinilai sebagai sumber keuangan baru dalam perputaran ekonomi Sultra oleh beberapa kalangan. Perusahaan asal China dengan nilai investasi lebih dari $ 5 miliar tersebut menjadi opsi baru sebagai sumber pendapatan negara dan masyarakat.

La Ode Darman, salah satu dosen Universitas Halu Oleo (UHO) Sultra menilai, kehadiran PT VDNI dengan membawa sejumlah uang merupakan bentuk tambahan modal bagi negara dalam membangkitkan ekonomi secara nasional. Sedangkan aktifitas pemurnian dalam bentuk industri, yang merupakan syarat baru regulasi pertambangan, dapat berdampak secara langsung dalam masyarakat, khususnya masyarakat Sultra.

“Kalau bicara soal dampak ekonomi, pastinya akan banyak memberi kontribusi, baik di pemerintah pusat, pemerintah daerah dan khususnya masyarakat Sultra, melalui serapan tenaga kerja serta proses jual-beli,” ungkapnya.

Pembangunan industri pemurnian, lanjutnya, merupakan wajah baru dalam sejarah pertambangan di Indonesia. Di sinilah nilai tambah dari proses pertambangan dengan peningkatan nilai jual beberapa kali lipat. Sultra, sebelumnya terdapat lebih dari 500 izin pertambangan, dengan metode eksplorasi, produksi ore lalu pengangkutan. Aktivitas tambang model tersebut sempat macet akibat regulasi baru yang dikeluarkan oleh negara, yang mewajibkan smelter.

“Dari ratusan penambang di Sultra, ribuan di Indonesia, sebelumnya, yang berani hadapi tantangan smelter hanya PT VDNI. Sebagai pembanding, misal kita ambil Freeport di Papua, yang sudah sangat tua. Kewajiban smelter dan divestasi saham 51 % sejak di kontrak karya generasi ke-2. Namun sampai hari ini juga belum ada. Jadi, untuk Virtue saya sangat sepakat dalam mengelola tambang. Selain peningkatan nilai jual produksi, smelter juga membutuhkan banyak tenaga kerja dan kebutuhan operasional. Itu yang menjadi nilai tambah dan lebih menghidupkan ekonomi masyarakat, dibanding mengangkut lalu dibawa ke luar,” jelasnya.

Selain Darman, aktivis mahasiswa UHO, Hamsi, juga memiliki pandangan yang sama. Efek secara ekonomi dengan hadirnya PT VDNI mulai terlihat, seperti terbukanya lowongan kerja baru hingga menghidupkan bisnis lokal pada berbagai sektor.

“Memang kita punya sumber daya alam yang berlimpah. Tapi kalau tidak terkelola maka tak ada gunanya. Dikelola juga, kalau tidak baik dan tidak profesional, itu juga mengandung unsur kerugian,” ungkapnya.

Hamsi, juga melihat, jika saat ini ada polemik publik soal tenaga kerja asing. Namun pandangnya positif dan menggapnya bukan masalah. Masuknya TKA sudah dirumuskan oleh pemerintah pusat dan dianggap rasional. Tenaga kerja inklut dalam kontrak proses pembangunan smelter. Sedang porsi warga lokal pada tahap produksi.

“Tapi pastinya bertahap juga kita masuknya. Alasannya profesionalitas. Jadi, kita sambil belajar mengurus feronikel. Itu yang sempat saya tangkap dari sejumlah wacana yang berkembang. Kalau soal peran Virtue secara ekonomi, sudah cukup membantu,” tutupnya.

Penulis : Abdul Rajab Sabarudin
Editor : Amin

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0