Pernyataan Trump Soal Yerussalem, PB PMII Dorong Pemerintah RI Lakukan Diplomatik

Pernyataan Trump Soal Yerussalem, PB PMII Dorong Pemerintah RI Lakukan Diplomatik

Pengumuman Pendaftaran Bakal Calon Ketua PKC PMII Sultra
Angkatan Muda adalah Idealis Tanpa Kompromi Pragmatis
Cetak Generasi Kritis, PMII UHO Gembleng Ratusan Kader Baru

Lensasultra.com, JAKARTA-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengecam keras kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump atas pengakuannya terhadap Yerussalem sebagai ibu kota negara Israel.

Ketua Bidang Hubungan Komunikasi Organ Gerakan Kepemudaan, LSM dan Ormas Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Muhammad Syarif Hidayatullah melalui keterangan pers yang diterima awak media Lensasultra.com menilai hal itu sebagai kebijakan sepihak dan dapat memicu kembali konflik.

“Pengakuan Donald Trump terhadap Yerussalem sebagai ibu kota Israel adalah kebijakan sepihak. Ini bisa memicu kembali konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Padahal kedua negara tersebut masih dalam proses melakukan perdamaian. Ini soal perdamaian dunia, bukan perdamaian Amerika Serikat”, ujarnya.

Pria yang akrab disapa Chaliq ini menambahkan, pemerintah Republik Indonesia harus segera melakukan langkah diplomatik agar pemerintah AS menarik keputusan atas pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

“Pemerintah Indonesia segera lakukan langkah diplomatik agar Presiden Amerika Serikat segera membatalkan keputusan sepihak ini. Jika dalam waktu dekat pemerintah Amerika Serikat tidak menarik keputusan tersebut, kami PB PMII akan melakukan konsolidasi untuk mengepung Kedubes Amerika Serikat”, tegasnya.

Di tempat berbeda Ketua Umum PB PMII, Agus M Herlambang melihat masalah ini dalam perspektif hukum dan kemanusiaan.

“Dalam perspektif hukum, keputusan ini telah melanggar hukum atau kesepakatan-kesepakatan internasional yang dilahirkan lewat PBB terkait Israel dan Palestina, salah satunya adalah Resolusi Majelis Umum PBB No. 2253 tanggal 4 Juli 1967 hingga Resolusi No. 71 tanggal 23 Desember 2016 yang pada pokoknya menegaskan perlindungan Yerusalem terhadap okupasi Israel. Sementara dalam perspektif kemanusiaan ini akan memicu kembali konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina di tengah usaha perdamaian diantara kedua negara tersebut. Dan yang paling buruk adalah bisa melahirkan radikalisme dan ekstrimisme yang berujung pada konflik agama mengingat Yerussalem juga merupakan tempat suci umat Islam”, papar Agus.

Agus juga berharap agar seluruh negara-negara Islam di dunia untuk bersatu mendukung kemerdekaan Palestina.

“Kami berharap agar seluruh negara-negara di dunia khususnya negara-negara muslim bersatu mendukung kemerdekaan Palestina. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia harus menjadi garda terdepan untuk memperjuangkan hal tersebut di forum-forum internasional”, harapnya. (fb9)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0