Menguak Perjalanan Hari Ibu

Ini Kasus Korupsi Yang Pernah Membelit Aswad Sulaiman
Ratusan Perawat Honorer Sultra Tuntut Kesejahtraan
Rumah Mewah Aswad Sulaeman di Kendari Disambangi KPK

Oleh : Nilda SPt (mahasiswa pasca sarjana UHO Sultra)

Lensasultra.com – Tak akan habis ribuan kata untuk menuliskan pengorbanan sosok wanita terhebat dalam kehidupan masing-masing individu manusia.
Ketika kita melihat ke belakang, tak banyak pula arah pikiran kita yang selalu mengingat perjuangan ibu untuk diri kita.

Seolah-olah untuk menghargai itu semua, di kenallah satu istilah yang sudah menjadi pengetahuan umum, bahkan sudah menjadi pengetahuan khalayak ramai yang di kenal dengan istilah Hari ibu.

Dalam sejarahnya (wikipedia), hari ibu pertama kali di rayakan di Amerika serikat pada tahun 1908 ketika Anna jarvis mengadakan peringatan atas kematian ibunya di grafton, west virginia. Sedangkan di Indonesia, hari ibu di rayakan setiap tanggal 22 Desember.

Belakangan, perayaan hari ibu di Indonesia seolah hanya menjadi momentum sesaat dan menjadi fashion bagi pengguna sosial media. Bagimana tidak, tiap tanggal 22 Desember, sosial media di banjiri dengan tulisan-tulisan yang berisi ucapan kasih sayang terhadap ibu mereka masing-masing, namun ironisnya mereka hanya menjadikan momen itu sebagai tren yang dikenal sebagai ‘kids jaman now’ mengikuti tren yang katanya masa kini hanya lewat sosial media dan tidak tersampaikan langsung untuk ibu mereka, berbalik pengertian dari esensi perayaan hari ibu yang di ketahui oleh orang banyak.

Melihat perayaan hari ibu, seharusnya menjadi refleksi untuk kita semua bagaimana sikap maupun perilaku yang telah kita tunjukkan selama setahun terakhir kepada kita, bukannya menjadi gaya-gayaan yang hanya terbatas di sosial media.

Penting bagi kita semua untuk memaknai hari ibu yang tujuan awal pada saat di resmikan oleh presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno di ulang tahun ke-25 kongres perempuan Indonesia yakni untuk merayakan semangat wanita indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Walaupun sedikit bergeser dari hakikat dan esensi yang sebenarnya, namun ini sudah menjadi konsumsi dan kebiasaan khalayak ramai.

Terlepas dari itu semua, hal tersebut masih memiliki keterkaitan atau hubungan yang erat bagi kaum perempuan yang belum menjadi ibu, karena sasaran dan tujuan dari perayaan hari ibu ini, tidak hanya terbatas pada kaum ibu, namun kaum perempuan yang akan menjadi seorang ibu harus menyadari hal ini.

Oleh karena itu, kita semua yang terkhusus bagi kaum perempuan, harus melihat hari ibu ini dari sisi kita masing-masing, bahwa kita harus senantiasa meningkatkan kualitas diri kita dalam mengemban dan menumbuhkan kesadaran diri dalam berbangsa dan bernegara, dan kita yang juga memaknai hari ibu dari sisi yang kita ketahui secara umum,harus senantiasa memberikan kasih sayang maupun menunjukkan bentuk penghargaan kita yang tak akan berbanding dengan pengorbanan sang ibu.

Editor : Lin

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0