Disinyalir, ada Mark Up pada Rp 1,9 Miliar APBDes di Muna

Bawaslu Sultra Diminta Awasi Netraitas PNS di Pilkada 2018
Aliansi Tani Sultra Bersatu, Menuntut Penyelesaian Konflik Agraria di Sultra
Mitsubishi Cold Diesel FE 74 L, Mobil Pendatang Baru di Bosowa Berlian Motor

Ilustrasi

Lensasultra.com, KENDARI –¬†Diduga ada upaya mark up pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBdes) tahun 2017 di seluruh desa di Kabupaten Muna. Dugaan tersebut terjadi pada kegiatan Bimbingan teknis tentang pengelolaan software database pelayanan administrasi pemerintahan desa.

Laode Agus, presidium Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerak Sultra mengatakan, sejauh ini sudah beberapa alat bukti yang dikumpulkan terkait dugaan tersebut. Sejumlah alat bukti seperti undangan dari instansi pemerintah terkait dan sejumlah bukti transefer uang.

“Tiap desa membayar Rp 16 juta. Jadi kalau sebanyak 124 desa, totalnya Rp 1,9 miliar,” ungkapnnya.

Dalam regulasi keuangan desa, lanjutnya, berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmingrasi, Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pelatihan Masyarakat. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) seharusnya dilakukan oleh pemerintah desa.

“Sangat aneh kalau postur APBDes dalam satu kambupaten memiliki kesamaan program kegiatan karena kegiatan serupa pernah dilakukan pada 2013 silam. Kemungkinan ini ada intervensi, apalagi didukung bukti surat. Kemudian, pelaku kegiatan bukan desa sendiri. Ada IO yang tidak jelas MOU-nya seperti apa,” tutur Agus.

Selanjutnya, terkait Rp 16 juta tiap desa tersebut, Rp 4 juta digunakan untuk pelatihan. Sedangkan Rp 12 juta digunakan untuk membeli software administrasi desa pada salah satu penyedia jasa software di Kota Kendari yang bernama Praja.

“Harga Software-nya luar biasa. Kuat dugaan kami ada permainan di sini,” ungkap Agus.

Penasaran dengan harga software tersebut, tim Lensasultra.com berupaya melakukan penelusuran melalui bukti kwitansi jual beli. Dalam kwitansi hanya mencantumkan alamat Jalan Melar Nomor 3 dan tidak ada kontak person.

Setelah sampai di alamat, tim Lensasultra.com tidak menemukan kantor Praja, yang ada hanya rumah warga. Nama penerima dalam kwitansi juga tidak dikenali oleh pemilik rumah. Pemilik rumah juga mengatakan jika tim Lensasultra.com sedang salah alamat.

Tim Lensasultra.com juga mencoba mempelajari software generic tersebut. Software serupa dalam beberapa katalog online terpercaya, hanya dijual dengan harga ratusan ribu rupiah. Paling mahal Rp 3 juta rupiah dengan kopleksitas yang sangat bagus.

Penulis : Abdul Rajab Sabarudin
Editor : Lin

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0