Panggung seni (foto Aff)

Lensasultra.com, Palu – Menjelang agenda utama Kongres ke-XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Palu, sejumlah kader dari Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulawesi Barat menggelar Panggung Ekspresi Seni. Panggung ini digelar terbuka dipelataran arena kongres ke-XIX PMII. Kegiatan ini mengundang apresiasi dari berbagai kader yang datang dari berbagai cabang yang kebetulan melintasi area pentas. Pentas seni ini mengangkat tema “Tetap Cerdas dab Kreatif untuk PMII”.

“Aku udah dari tadi di sini, acaranya menghibur, lumayan buat ngisi ke kosongan” ungkap Nafis dari cabang Paser (16/5/2017).

Pentas Panggung Ekspresi Seni ini direncanakan akan berlangsung hingga acara kongres berakhir. Sejumlah peserta yang ingin tampil di panggung ini hanya cukup mendaftarkan diri pada panitia tanpa dipungut biaya hanya tinggal menunggu dipanggil oleh pembawa acara. Banyak peserta yang menampilkan lagu-lagu dari daerahnya masing-masing dan ada juga penampilan puisi dari berbagai daerah. Pentas seni ini berlangsung dengan sangat hikmat, terhitung ada beberapa cabang yang ikut menyumbangkan puisi dan lagu seperti dari Ambon, Fak-Fak, Ternate, Mamuju dan lain-lain. Dalam pentas ini juga ikut dari cabang Kota Kendari yang menampilkan puisi karangan WS. Rendra dengan judul Sajak Bulan Mei 1998.

“Berhubung kongresnya Bulan Mei, saya jadi teringat sebuah puisi karangan WS. Rendra yang berjudul Sajak Bulan Mei 1998, puisi ini di tulis pada Bulan Mei tanggal 17, pas dengan malam ini 16 Mei 2017” ungkap Afdal dari Cabang Kota Kendari sebelum membacakan puisi (16/5/2017).

Puisi: Sajak Bulan Mei 1998

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingat kan bahwa hukum harus lebih tinggidari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada.
Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersamaadalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara menjadi saksi yang akan berkata:Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
Apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
Apabila aparat keamanan sudah menjarah keamananmaka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasalalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkanberarti pintu untuk pikiran-pikiran kalapyang akan muncul dari sudut-sudut gelaptelah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

(Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dandibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998).*AFF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here